Dakwah mengandung pengertian sebagai suatu kegiatan
ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya yang
dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik
secara individual maupun secara kelompok agar supaya timbul dalam dirinya
sesuatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengamalan terhadap
ajaran agama sebagai message yang di sampaikan kepadanya tanpa ada unsur-unsur
paksaan. Menurut Abdul Basit berpendapat dalam bukunya yang berjudul filsafat dakwah
bahwa, ada tiga gagasan pokok mengenai dakwah islam. Pertama, dakwah merupakan
proses kegiatan mengajak kepada jalan Allah, aktivitas mengajak tersebut bisa
berbentuk tabligh (penyampaian), Taghyir (perubahan, internalisasi dan
pengembangan), dan uswah (keteladanan). Kedua, dakwah merupakan proses persuasi
(mempengaruhi), berbeda dengan hakikat yang pertama mempengaruhi tidak hanya
sekedar mengajak, melainkan membujuk agar objek yang dipengaruhi itu mau ikut
dengan orang yang mempengaruhi.Dakwah merupakan sebuah system yang utuh. Ketika
seseorang melakukan dakwah peling tidak ada tiba sub-sistem yang tidak bisa
dipisahkan yaitu da`i, mad`u, dan pesan dakwah. Menurut pendapat penulis dakwah
merupakan ajakan yang baik kepada orang lain untuk membujuk dalam bentuk lisan,
tulisan, tingkah laku, dan sebagainya, agar orang lain baik individual atau
kelompok dapat merubah sikapnya menjadi kearah yang lebih baik lagi.
Peradaban, Dalam bahasa Arab, peradaban biasa
diderivasi dari katahadarah dan hadarah ini diartikan dengan: “Peradaban, dalam
pengertian yang umum, adalah buah dari setiap usaha yang dilakukan oleh manusia
untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Sama saja, apakah usaha yang dilakukan untuk
mencapai buah tersebut benar-benar yang dituju, atau tidak. Baik buah tersebut
dalam bentuk materi (maddiyyah) atau imateri (ma’nawiyyah).
Agama mengenalkan bahwa di dunia ini terdapat hal yang
berkuasa atas segala sesuatu dan memiliki kekuatan kendali. Secara umum, agama
dapat diartikan sebagai sistem yang mengatur kepercayaan dan peribadatan Kepada
Tuhan serta tata kaidah yang berhubungan dengan budaya, serta pandangan dunia
yang menghubungkan manusia dengan tata kehidupan.
Dalam kehidupan memang akan selalu menemui dua hal yang
paradoks, baik dan buruk. Keparadokan ini juga dialami oleh agama. Namun
kendati sejarah agama selalu dihiasi oleh pertempahan darah, bukan berarti
menghilangkan hal yang baik dalam agama. Meski diingat bahwa agama lahir ke
dunia selalu bermula dari perlawanan terhadap tirani dan status yang dzolim.
Selain itu, agama juga turut menyumbang banyak peradaban manusia. Indonesia
adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa,
kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai semboyang Bhineka Tunggal Ika. Di Indonesia
sendiri ada enam agama yang di akui yaitu: Islam dengan presentase 87.2%,
Kristen dengan presentase 6.9%, Katolik dengan presentase 2.9%, Hindu dengan
presentase 1.7%, Budha dengan presentase 0.7%, dan Konghucu dengan presentase
0.05% menurut sensus penduduk. Perlu ditekankan bahwa para pengikut keenam
agama yang disebutkan di atas tidak merupakan kelompok yang koheren. Misalnya,
ada banyak orang Muslim di Indonesia yang strik maka mereka terfokus pada
masjid, Al-Quran dan ritual Islam, maka Islam memainkan peran penting dalam
kegiatan sehari-hari dan kehidupan mereka.
Sepanjang sejarahnya, agama juga merupakan penyebab
banyaknya kekerasan di Indonesia. Mengenai sejarah masa kini, terdapat satu
titik balik yang penting. Setelah jatuhnya rezim Orde Baru presiden Suharto
(yang dicirikan oleh pemerintah pusat yang kuat dan masyarakat sipil yang
lemah) suara Islam yang radikal dan tindakan kekerasan (aksi teroris) - yang
sebelumnya sebagian besar ditekan pemerintah - sempat muncul ke permukaan dalam
bentuk serangan bom serta ancaman lain. Di era Reformasi berbagai media
Indonesia pernah memberitakan soal kekerasan antar agama, misalnya kelompok
Muslim yang radikal terhadap kelompok agama minoritas seperti para Ahmadiyya
dan Kristen. Apalagi, para pelaku dan pemicu kekerasan tersebut biasanya
dijatuhkan hukuman penjara yang ringan. Hal tersebut telah mendapatkan
perhatian internasional dan sejumlah pemerintah, organisasi serta media
menyatakan keprihatinan atas penjaminan kebebasan agama di Indonesia. Akan
tetapi - betapa pun ngerinya - serangan tersebut adalah pengecualian, daharus
ditekankan bahwa mayoritas masyarakat Muslim di Indonesia sangat mendukung masyarakat
yang pluralis dan damai jika menyangkut hal agama.
Islam di
Indonesia
Islam di Indonesia, mayoritas masyarakat Indonesia
menganut agama Islam. Tetapi ini tidak berarti bahwa umat Islam itu merupakan
umat yang koheren. Karena daerah-daerah di Indonesia mempunyai sejarah
sendiri-sendiri, diwarnai oleh pengaruh yang berbeda, keadaan aliran-aliran
Islam yang kini ada berbeda juga. Meskipun sebuah proses PAN-Islamisasi sudah
mulai sejak beberapa abad yang lalu, Indonesia tidak kehilangan keragaman dalam
varietas Islam. Saat ini ada lebih dari 207 juta orang muslim yang tinggal di
Indonesia, sebagian besar muslim sunni. Perdagangan memainkan peran penting
dalam proses Islamisasi Indonesia. Namun, ini bukan proses cepat dan mudah dan
kadang-kadang dipaksa oleh kekuatan pedang. Proses Islamisasi Indonesia terjadi
dalam serangkaian gelombang yang melibatkan perdagangan global, pendirian
berbagai kesultanan muslim yang berpengaruh, dan gerakan sosial.
Tantangan dan Rintangan Dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah
Pada zaman nabi muhammad dakwah sudah dilakukan untuk
menyebar luaskan islam dan sudah pasti ada tantangan yang dirasakan. Nabi
Muhammad yang mulanya mendapat perintah Allah berdakwah secara
sembunyi-sembunyi kemudian diperintah oleh Allah untuk berdakwah secara
terang-terangan. Saat Rasulullah berdakwah secara terang-terangan, maka
gangguan kaum kafir Quraisy juga semakin nampak. Orang-orang kafir Quraisy
melakukan segala upaya demi terhentinya dakwah Rasulullah SAW dan padamnya
syiar Islam. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut
(ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan
cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah
mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar
untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak
menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).
Diantara usaha-usaha orang-orang kafir Quraisy dalam
menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW dan tersebarnya dakwah Islam antara lain:
1.
Penghinaan,
ancaman dan siksaan secara fisik kepada Rasulullah SAW.
Orang-orang
kafir Quraisy Makkah menghina Nabi Muhammad dan menyebut beliau sebagai orang
gila, tukang sihir, si anak celaka dan sebagainya sebagai penghinaan kepada nabi
muhammad. Abu Jahal melemparkan kotoran unta di atas tubuh Rasulullah kala
beliau sedang bersujud dalam shalat beliau di Masjidil Haram.
2.
Penghinaan,
ancaman dan siksaan terhadap para pengikut Rasulullah SAW.
Saat
orang-orang kafir gagal dalam membunuh karakter Rasulullah SAW dengan fitnah,
dan mereka juga gagal menghentikan dakwah Rasulullah, mereka mengalihkan
gangguan kepada para pengikut Nabi Muhammad SAW yang berasal dari kalangan
budak dan lemah. Tujuannya agar para pengikut Rasulullah tersebut mau kembali
ke barisan kaum kafir dan menyembah berhala.
3.
Tawaran
harta, tahta dan wanita.
Orang-orang
kafir Quraisy mengutus Utbah bin Rabi’ah menemui Rasulullah kemudian menawarkan
harta sebanyak apapun yang Rasulullah mau lalu menawari Rasulullah menjadi pemimpin
Makkah dan juga menawarkan wanita-wanita tercanti di seluruh Arab agar
Rasulullah menghentikan dakwah beliau. Semua tawaran tersebut ditolak oleh
Rasulullah SAW, karena beliau diutus ke dunia bukanlah untuk mengejar harta,
tahta dan wanita.
4.
Membujuk
Nabi SAW untuk saling bertukar sesembahan.
Ibnu Ishaq
meriwayatkan dari Ibnu Abbas terkait asbabun nuzul Surat Al Kafirun ini. Bahwa
Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin
Khalaf menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengatakan,
“Wahai Muhammad, marilah kami menyembah Tuhan yang kamu sembah dan kamu
menyembah Tuhan yang kami sembah. Kita bersama-sama ikut serta dalam perkara
ini. Jika ternyata agamamu lebih baik dari agama kami, kami telah ikut serta dan
mengambil keuntungan kami dalam agamamu. Jika ternyata agama kami lebih baik
dari agamamu, kamu telah ikut serta dan mengambil keuntunganmu dalam agama
kami.” Penawaran seperti itu adalah penawaran yang bodoh dan konyol serta
mereka tak mengetahui hakikat ajaran Islam yang sangat menentang setiap ajaran
yang ingin mempersekutukan Allah dengan sesuatu. Maka Allah pun menurunkan
Surat Al Kafirun sebagai jawaban tegas bahwa Rasulullah berlepas diri dari
agama mereka.
5.
Membujuk
dan memprovokasi Abu Thalib.
Orang-orang
kafir Quraisy merasa frustasi saat melakukan gangguan kepada Nabi dan para
sahabat beliau yang sangat gigih memegang ajaran Islam. Orang-orang Quraisy
mendekati Abu Thalib yang merupakan paman sekaligus pelindung Nabi Muhammad
dalam berdakwah. Mereka berharap Abu Thalib, yakni orang yang sangat disegani
dan dicintai Rasulullah mau mendukung mereka dalam menghentikan dakwah Nabi
Muhammad SAW. Orang-orang kafir Quraisy membawa seorang pemuda yang gagah dan
ganteng untuk ditukarkan dengan Rasulullah. Hal tersebut sangat menyinggung
perasaan Abu Thalib dan menolak tawaran orang-orang kafir Quraisy.
6.
Menghasut
Masyarakat Makkah
Orang-orang
kafir Quraisy berusaha menghalangi orang-orang Makkah yang ingin mendengarkan
dakwah Nabi SAW, bahkan mengancam membunuh mereka. Namun hal itu tak
menyurutkan keinginan masyarakat Makkah untuk mendengar dakwah Nabi SAW walau
dengan sembunyi-sembunyi.
7.
Mengasingkan
dan memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthallib.
Saat
orang-orang kafir Quraisy telah mengalami kebuntuan dalam menghentikan dakwah
Nabi SAW dengan ancaman, mereka mulai melakukan pengasingan dan pemboikotan.
Mereka bersepakat membuat surat pengumuman yang ditempel di Ka’bah yang berisi
tentang larangan untuk melakukan jual-beli, pernikahan dan tolong menolong dengan
Nabi Muhammad, keluarga serta para pengikut beliau. Diriwayatkan, yang menulis
penyataan itu ialah Manshûr bin ‘Ikrimah yang didoakan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam agar celaka sehingga sebagian jemarinya lumpuh. Ada juga yang
mengatakan bahwa penulisnya ialah Nadhr bin Hârits, ada yang mengatakan Thalhah
bin Abu Thalhah, dan ada pula yang mengatakan Bagiid bin ‘Amir bin Hasyim bin
Abdud-Daar.
8.
Mempengaruhi
pemimpin negara-negara tetanggan untuk menolak Islam dan kaum muslimin.
Saat Makkah dirasa
sudah tak aman bagi kaum muslimin, maka sebagian kaum muslimin yang dipimpin
oleh Ja’far bin Abu Thalib saudara Ali bin Abi Thalib melakukan perjalanan
hijrah ke Negeri Habasyah yang saat itu dipimpin oleh Raja Negus/Najasyi yang
beragama Nasrani. Di negeri Habasyah kaum muslimin mendapatkan ketenangan dan
perlindungan dari raja yang adil tersebut. Kaum kafir Quraisy merasa sangat
marah atas perhatian yang diberikan kepada kaum muslimin. Mereka segera
mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah ke Habasyah untuk menjemput
kaum muslimin pulang ke Makkah dan kembali mendapatkan siksaan dari kaum kafir
Quraisy.
Menurut penulis dari tantangan
dan rintangan dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW menjadi pelajaran untuk
umatnya yang sedang memperjuangkan islam melalui dakwah, dengan mengambil poin –
poin penting dari yang nabi lakukan dengan menaggapi hal rintangan tersebut.
Tantangan dan
rintangan dakwah di Indonesia
Seperti yang penulis jelaskan sebelumnya, Indonesia
adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa,
kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai semboyang Bhineka Tunggal Ika. Dengan itu
di Indonesia bukan hanya agama islam yang tinggal di negara Indonesia. Karena itu
dalam berdakwah terdapat keterbatasan untuk menyampaikan takut akan tersinggungnya
orang yang beragama selain islam. Oleh karena itu para da’i harus mengambil
tindakan yang tepat dalam berdakwah.
Belum lagi maraknya aksi terorisme yang dari dahulu
hingga sekarang yang terus terjadi sehingga menimbulkan fenomena islamofobia di
Indonesia. Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada
prasangka, diskriminasi, ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan Muslim. Islamofobia
dapat diartikan sebagai fobia atau ketakutan berlebih terhadap Islam atau
muslim. Islamofobia adalah nama bagi sebuah fenomena anti Islam yang biasanya ditandai
dengan prasangka buruk seperti menganggap bahwa Islam adalah agama yang
mengancam dan membahayakan nilai-nilai lain dalam masyarakat. Padahal agama
islam tidak mengajarkan kekerasan terhadap sesama manusia bahkan dengen agama
yang berbeda sekalipun dan kita harus melaksanakan toleransi agama.
Seperti firman Allah
dalam Al-Quran surat Al – Maidah ayat 32 yang artinya: “Oleh karena itu Kami
tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang,
bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan
di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa
memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara
kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka
dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di
antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi”. Penjelasan, Banyak sekali
kejahatan dan kerusakan yang terjadi kepada orang - orang yang cinta damai.
Nasihat demi nasihat pun serta peringatan - peringatan sudah tidak lagi berguna
dan tidak didengar orang para pelaku kerusakan, ajakan untuk saling mengasihi
pun tidak lagi dapat mencegah mereka dari kemungkaran. Oleh karena itulah Allah
menetapkan ganjaran yang amat besar kepada dosa yang mereka lakukan, membunuh
seseorang akan sebanding dengan membunuh seluruh manusia. Dan dijadikan
tindakan mencegah pembunuhan dan menyelamatkan manusia sebanding dengan
menyelamatkan seluruh manusia. Ketetapan itu diberlakukan kepada Bani Israel.
Allah sudah menetapkan prinsip ini kepada mereka karena pada zaman dahulu Bani
Israel adalah Ahli Kitab yang mencerminkan "Darul Islam".
Lalu adapun hadist yang menjelaskan tentang toleransi:
1.
Dari
Anas bin Malik RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi (Allah) yang
nyawaku di tangan - Nya, tidaklah beriman seorang hamba sehingga dia mencintai
tetangganya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim dan Abu
Ya’la: 2967).Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq.
2.
Dawud
bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu
‘Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah Saw. “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?”
maka beliau bersabda: “Al - Hanifiyyah As - Samhah (yang lurus lagi toleran)”
(HR. Abu Daud).
Cara mengatasinya jika dilihat dari hal yang sudah
dibahas dengan mencari atau menyampaikan materi dakwah yang menarik dan cocok
dengan situasi yang ada pada saat itu dengan menjaga kosa kata bahasa dan tidak
mendiskriminasi agama lain, lalu dakwah hendaknya dilakukan dengan bahasa dan
penyampaian yang sesuai dengan audien. Seperti menerapkan 9 macam qaulan yaitu:
Qaulan Ma'rufa (Perkataan yang baik), Qaulan Sadidan (Perkataan yang tegas dan
benar), Qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut), Qaulan maisuran
(perkataan yang pantas), Qaulan baligha (perkataan yang membekas pada jiwa), Qaulan
karima (perkataan yang mulia), Qaulan Tsaqilan (perkataan yang penuh makna). Dengan
itu dakwah yang disampaikan akan terlaksana dan tercerna oleh khlayak dengan
baik.
Penulis Idham Kholid