Minggu, 11 Juli 2021

Tantangan Dakwah Islam Dalam Keberagaman Agama di Indonesia

Dakwah mengandung pengertian sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun secara kelompok agar supaya timbul dalam dirinya sesuatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengamalan terhadap ajaran agama sebagai message yang di sampaikan kepadanya tanpa ada unsur-unsur paksaan. Menurut Abdul Basit berpendapat dalam bukunya yang berjudul filsafat dakwah bahwa, ada tiga gagasan pokok mengenai dakwah islam. Pertama, dakwah merupakan proses kegiatan mengajak kepada jalan Allah, aktivitas mengajak tersebut bisa berbentuk tabligh (penyampaian), Taghyir (perubahan, internalisasi dan pengembangan), dan uswah (keteladanan). Kedua, dakwah merupakan proses persuasi (mempengaruhi), berbeda dengan hakikat yang pertama mempengaruhi tidak hanya sekedar mengajak, melainkan membujuk agar objek yang dipengaruhi itu mau ikut dengan orang yang mempengaruhi.Dakwah merupakan sebuah system yang utuh. Ketika seseorang melakukan dakwah peling tidak ada tiba sub-sistem yang tidak bisa dipisahkan yaitu da`i, mad`u, dan pesan dakwah. Menurut pendapat penulis dakwah merupakan ajakan yang baik kepada orang lain untuk membujuk dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya, agar orang lain baik individual atau kelompok dapat merubah sikapnya menjadi kearah yang lebih baik lagi.

Peradaban, Dalam bahasa Arab, peradaban biasa diderivasi dari katahadarah dan hadarah ini diartikan dengan: “Peradaban, dalam pengertian yang umum, adalah buah dari setiap usaha yang dilakukan oleh manusia untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Sama saja, apakah usaha yang dilakukan untuk mencapai buah tersebut benar-benar yang dituju, atau tidak. Baik buah tersebut dalam bentuk materi (maddiyyah) atau imateri (ma’nawiyyah).

Agama mengenalkan bahwa di dunia ini terdapat hal yang berkuasa atas segala sesuatu dan memiliki kekuatan kendali. Secara umum, agama dapat diartikan sebagai sistem yang mengatur kepercayaan dan peribadatan Kepada Tuhan serta tata kaidah yang berhubungan dengan budaya, serta pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tata kehidupan.

Dalam kehidupan memang akan selalu menemui dua hal yang paradoks, baik dan buruk. Keparadokan ini juga dialami oleh agama. Namun kendati sejarah agama selalu dihiasi oleh pertempahan darah, bukan berarti menghilangkan hal yang baik dalam agama. Meski diingat bahwa agama lahir ke dunia selalu bermula dari perlawanan terhadap tirani dan status yang dzolim. Selain itu, agama juga turut menyumbang banyak peradaban manusia. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai semboyang Bhineka Tunggal Ika. Di Indonesia sendiri ada enam agama yang di akui yaitu: Islam dengan presentase 87.2%, Kristen dengan presentase 6.9%, Katolik dengan presentase 2.9%, Hindu dengan presentase 1.7%, Budha dengan presentase 0.7%, dan Konghucu dengan presentase 0.05% menurut sensus penduduk. Perlu ditekankan bahwa para pengikut keenam agama yang disebutkan di atas tidak merupakan kelompok yang koheren. Misalnya, ada banyak orang Muslim di Indonesia yang strik maka mereka terfokus pada masjid, Al-Quran dan ritual Islam, maka Islam memainkan peran penting dalam kegiatan sehari-hari dan kehidupan mereka.

Sepanjang sejarahnya, agama juga merupakan penyebab banyaknya kekerasan di Indonesia. Mengenai sejarah masa kini, terdapat satu titik balik yang penting. Setelah jatuhnya rezim Orde Baru presiden Suharto (yang dicirikan oleh pemerintah pusat yang kuat dan masyarakat sipil yang lemah) suara Islam yang radikal dan tindakan kekerasan (aksi teroris) - yang sebelumnya sebagian besar ditekan pemerintah - sempat muncul ke permukaan dalam bentuk serangan bom serta ancaman lain. Di era Reformasi berbagai media Indonesia pernah memberitakan soal kekerasan antar agama, misalnya kelompok Muslim yang radikal terhadap kelompok agama minoritas seperti para Ahmadiyya dan Kristen. Apalagi, para pelaku dan pemicu kekerasan tersebut biasanya dijatuhkan hukuman penjara yang ringan. Hal tersebut telah mendapatkan perhatian internasional dan sejumlah pemerintah, organisasi serta media menyatakan keprihatinan atas penjaminan kebebasan agama di Indonesia. Akan tetapi - betapa pun ngerinya - serangan tersebut adalah pengecualian, daharus ditekankan bahwa mayoritas masyarakat Muslim di Indonesia sangat mendukung masyarakat yang pluralis dan damai jika menyangkut hal agama.

Islam di Indonesia

Islam di Indonesia, mayoritas masyarakat Indonesia menganut agama Islam. Tetapi ini tidak berarti bahwa umat Islam itu merupakan umat yang koheren. Karena daerah-daerah di Indonesia mempunyai sejarah sendiri-sendiri, diwarnai oleh pengaruh yang berbeda, keadaan aliran-aliran Islam yang kini ada berbeda juga. Meskipun sebuah proses PAN-Islamisasi sudah mulai sejak beberapa abad yang lalu, Indonesia tidak kehilangan keragaman dalam varietas Islam. Saat ini ada lebih dari 207 juta orang muslim yang tinggal di Indonesia, sebagian besar muslim sunni. Perdagangan memainkan peran penting dalam proses Islamisasi Indonesia. Namun, ini bukan proses cepat dan mudah dan kadang-kadang dipaksa oleh kekuatan pedang. Proses Islamisasi Indonesia terjadi dalam serangkaian gelombang yang melibatkan perdagangan global, pendirian berbagai kesultanan muslim yang berpengaruh, dan gerakan sosial.

Tantangan dan Rintangan Dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah

Pada zaman nabi muhammad dakwah sudah dilakukan untuk menyebar luaskan islam dan sudah pasti ada tantangan yang dirasakan. Nabi Muhammad yang mulanya mendapat perintah Allah berdakwah secara sembunyi-sembunyi kemudian diperintah oleh Allah untuk berdakwah secara terang-terangan. Saat Rasulullah berdakwah secara terang-terangan, maka gangguan kaum kafir Quraisy juga semakin nampak. Orang-orang kafir Quraisy melakukan segala upaya demi terhentinya dakwah Rasulullah SAW dan padamnya syiar Islam. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).

Diantara usaha-usaha orang-orang kafir Quraisy dalam menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW dan tersebarnya dakwah Islam antara lain:

1.      Penghinaan, ancaman dan siksaan secara fisik kepada Rasulullah SAW.

Orang-orang kafir Quraisy Makkah menghina Nabi Muhammad dan menyebut beliau sebagai orang gila, tukang sihir, si anak celaka dan sebagainya sebagai penghinaan kepada nabi muhammad. Abu Jahal melemparkan kotoran unta di atas tubuh Rasulullah kala beliau sedang bersujud dalam shalat beliau di Masjidil Haram.

2.      Penghinaan, ancaman dan siksaan terhadap para pengikut Rasulullah SAW.

Saat orang-orang kafir gagal dalam membunuh karakter Rasulullah SAW dengan fitnah, dan mereka juga gagal menghentikan dakwah Rasulullah, mereka mengalihkan gangguan kepada para pengikut Nabi Muhammad SAW yang berasal dari kalangan budak dan lemah. Tujuannya agar para pengikut Rasulullah tersebut mau kembali ke barisan kaum kafir dan menyembah berhala.

3.      Tawaran harta, tahta dan wanita.

Orang-orang kafir Quraisy mengutus Utbah bin Rabi’ah menemui Rasulullah kemudian menawarkan harta sebanyak apapun yang Rasulullah mau lalu menawari Rasulullah menjadi pemimpin Makkah dan juga menawarkan wanita-wanita tercanti di seluruh Arab agar Rasulullah menghentikan dakwah beliau. Semua tawaran tersebut ditolak oleh Rasulullah SAW, karena beliau diutus ke dunia bukanlah untuk mengejar harta, tahta dan wanita.

4.      Membujuk Nabi SAW untuk saling bertukar sesembahan.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas terkait asbabun nuzul Surat Al Kafirun ini. Bahwa Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Umayyah bin Khalaf menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengatakan, “Wahai Muhammad, marilah kami menyembah Tuhan yang kamu sembah dan kamu menyembah Tuhan yang kami sembah. Kita bersama-sama ikut serta dalam perkara ini. Jika ternyata agamamu lebih baik dari agama kami, kami telah ikut serta dan mengambil keuntungan kami dalam agamamu. Jika ternyata agama kami lebih baik dari agamamu, kamu telah ikut serta dan mengambil keuntunganmu dalam agama kami.” Penawaran seperti itu adalah penawaran yang bodoh dan konyol serta mereka tak mengetahui hakikat ajaran Islam yang sangat menentang setiap ajaran yang ingin mempersekutukan Allah dengan sesuatu. Maka Allah pun menurunkan Surat Al Kafirun sebagai jawaban tegas bahwa Rasulullah berlepas diri dari agama mereka.

5.      Membujuk dan memprovokasi Abu Thalib.

Orang-orang kafir Quraisy merasa frustasi saat melakukan gangguan kepada Nabi dan para sahabat beliau yang sangat gigih memegang ajaran Islam. Orang-orang Quraisy mendekati Abu Thalib yang merupakan paman sekaligus pelindung Nabi Muhammad dalam berdakwah. Mereka berharap Abu Thalib, yakni orang yang sangat disegani dan dicintai Rasulullah mau mendukung mereka dalam menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW. Orang-orang kafir Quraisy membawa seorang pemuda yang gagah dan ganteng untuk ditukarkan dengan Rasulullah. Hal tersebut sangat menyinggung perasaan Abu Thalib dan menolak tawaran orang-orang kafir Quraisy.

6.      Menghasut Masyarakat Makkah

Orang-orang kafir Quraisy berusaha menghalangi orang-orang Makkah yang ingin mendengarkan dakwah Nabi SAW, bahkan mengancam membunuh mereka. Namun hal itu tak menyurutkan keinginan masyarakat Makkah untuk mendengar dakwah Nabi SAW walau dengan sembunyi-sembunyi.

7.      Mengasingkan dan memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthallib.

Saat orang-orang kafir Quraisy telah mengalami kebuntuan dalam menghentikan dakwah Nabi SAW dengan ancaman, mereka mulai melakukan pengasingan dan pemboikotan. Mereka bersepakat membuat surat pengumuman yang ditempel di Ka’bah yang berisi tentang larangan untuk melakukan jual-beli, pernikahan dan tolong menolong dengan Nabi Muhammad, keluarga serta para pengikut beliau. Diriwayatkan, yang menulis penyataan itu ialah Manshûr bin ‘Ikrimah yang didoakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar celaka sehingga sebagian jemarinya lumpuh. Ada juga yang mengatakan bahwa penulisnya ialah Nadhr bin Hârits, ada yang mengatakan Thalhah bin Abu Thalhah, dan ada pula yang mengatakan Bagiid bin ‘Amir bin Hasyim bin Abdud-Daar.

8.      Mempengaruhi pemimpin negara-negara tetanggan untuk menolak Islam dan kaum muslimin.

Saat Makkah dirasa sudah tak aman bagi kaum muslimin, maka sebagian kaum muslimin yang dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib saudara Ali bin Abi Thalib melakukan perjalanan hijrah ke Negeri Habasyah yang saat itu dipimpin oleh Raja Negus/Najasyi yang beragama Nasrani. Di negeri Habasyah kaum muslimin mendapatkan ketenangan dan perlindungan dari raja yang adil tersebut. Kaum kafir Quraisy merasa sangat marah atas perhatian yang diberikan kepada kaum muslimin. Mereka segera mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah ke Habasyah untuk menjemput kaum muslimin pulang ke Makkah dan kembali mendapatkan siksaan dari kaum kafir Quraisy.

Menurut penulis dari tantangan dan rintangan dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW menjadi pelajaran untuk umatnya yang sedang memperjuangkan islam melalui dakwah, dengan mengambil poin – poin penting dari yang nabi lakukan dengan menaggapi hal rintangan tersebut.

Tantangan dan rintangan dakwah di Indonesia

Seperti yang penulis jelaskan sebelumnya, Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai semboyang Bhineka Tunggal Ika. Dengan itu di Indonesia bukan hanya agama islam yang tinggal di negara Indonesia. Karena itu dalam berdakwah terdapat keterbatasan untuk menyampaikan takut akan tersinggungnya orang yang beragama selain islam. Oleh karena itu para da’i harus mengambil tindakan yang tepat dalam berdakwah.

Belum lagi maraknya aksi terorisme yang dari dahulu hingga sekarang yang terus terjadi sehingga menimbulkan fenomena islamofobia di Indonesia. Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka, diskriminasi, ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan Muslim. Islamofobia dapat diartikan sebagai fobia atau ketakutan berlebih terhadap Islam atau muslim. Islamofobia adalah nama bagi sebuah fenomena anti Islam yang biasanya ditandai dengan prasangka buruk seperti menganggap bahwa Islam adalah agama yang mengancam dan membahayakan nilai-nilai lain dalam masyarakat. Padahal agama islam tidak mengajarkan kekerasan terhadap sesama manusia bahkan dengen agama yang berbeda sekalipun dan kita harus melaksanakan toleransi agama.

 Seperti firman Allah dalam Al-Quran surat Al – Maidah ayat 32 yang artinya: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi”. Penjelasan, Banyak sekali kejahatan dan kerusakan yang terjadi kepada orang - orang yang cinta damai. Nasihat demi nasihat pun serta peringatan - peringatan sudah tidak lagi berguna dan tidak didengar orang para pelaku kerusakan, ajakan untuk saling mengasihi pun tidak lagi dapat mencegah mereka dari kemungkaran. Oleh karena itulah Allah menetapkan ganjaran yang amat besar kepada dosa yang mereka lakukan, membunuh seseorang akan sebanding dengan membunuh seluruh manusia. Dan dijadikan tindakan mencegah pembunuhan dan menyelamatkan manusia sebanding dengan menyelamatkan seluruh manusia. Ketetapan itu diberlakukan kepada Bani Israel. Allah sudah menetapkan prinsip ini kepada mereka karena pada zaman dahulu Bani Israel adalah Ahli Kitab yang mencerminkan "Darul Islam".

Lalu adapun hadist yang menjelaskan tentang toleransi:

1.      Dari Anas bin Malik RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi (Allah) yang nyawaku di tangan - Nya, tidaklah beriman seorang hamba sehingga dia mencintai tetangganya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim dan Abu Ya’la: 2967).Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq.

2.      Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah  dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah Saw. “Agama  manakah yang paling dicintai oleh Allah?” maka beliau bersabda: “Al - Hanifiyyah As - Samhah (yang lurus lagi toleran)” (HR. Abu Daud).

Cara mengatasinya jika dilihat dari hal yang sudah dibahas dengan mencari atau menyampaikan materi dakwah yang menarik dan cocok dengan situasi yang ada pada saat itu dengan menjaga kosa kata bahasa dan tidak mendiskriminasi agama lain, lalu dakwah hendaknya dilakukan dengan bahasa dan penyampaian yang sesuai dengan audien. Seperti menerapkan 9 macam qaulan yaitu: Qaulan Ma'rufa (Perkataan yang baik), Qaulan Sadidan (Perkataan yang tegas dan benar), Qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut), Qaulan maisuran (perkataan yang pantas), Qaulan baligha (perkataan yang membekas pada jiwa), Qaulan karima (perkataan yang mulia), Qaulan Tsaqilan (perkataan yang penuh makna). Dengan itu dakwah yang disampaikan akan terlaksana dan tercerna oleh khlayak dengan baik.

 

Penulis Idham Kholid

Tantangan Dakwah Islam Dalam Keberagaman Agama di Indonesia

Dakwah mengandung pengertian sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya yang dilakukan sec...